0

Tempat yang Berkesan

| Wednesday, 11 July 2012

Setiap orang memiliki tempat yang berkesan dalam hidupnya. Yang berkesan itu dapat terbentuk karena manusia memiliki emosi sebagai respon dari suatu peristiwa. Ketika seseorang berada di suatu tempat yang berkesan pada dirinya, dia akan memutar memori tentang pengalaman intim di masa lalunya dengan suasana tertentu. Pengalaman intim itu terbentuk dari penerimaan diri seseorang terhadap pengalaman baru. Tampat yang berkesan dengan adanya pengalaman intim membuat perasaan seseorang aman, nyaman, dan terpenuhi kebutuhannya. Perasaan itu dapat disamakan ketika kita berada di daam pelukan ibu kita di saat kita masih bayi.

Kehangatan pelukan ibu

Rumah-rumah di daerah beriklim dingin maupun subtropis menjadi lebih intim pada musim dingin dibandingkan pada musim panas. Di musim dingin, rumah menjadi sangat penting sebagai tempat bernaung dari cuaca yang sangat dingin. Sadangkan, musim panas membuat orang lebih senang berada di luar rumah untuk beraktivitas maupun liburan. Sebuah hal yang unik bagi manusia sebagai golongan primata bahwa ketika ia mengalami rasa sakit, ia akan dapat sembuh dan sehat kembali  dengan adanya perhatian dari lingkungan sosial di sekitarnya.
Banyak orang memiliki rumah. Apalagi di era saat ini, untuk membangun atau membeli rumah sangat mudah dan mungkin. Akan tetapi, hanya sedikit yang dapat tinggal di rumah yang berkesan dan nyaman, yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhannya. Bisnis properti yang berkembang pesat menyebabkan rumah-rumah dijadikan barang komoditas yang dibuat sama yang secara tidak langsung memukul rata kepribadian dan kebutuhan penghuninya. Tentu saja hal tersebut bukan sesuatu yang menyenangkan sebagai penghuni. Mengapa penting untuk tinggal di rumah yang nyaman?
Bagaimanapun, setiap hari aktivitas yang intim pada diri seseorang lebih sering dilakukan di dalam rumahnya. Mungkin saja seseorang dapat bekerja seharian di luar rumah, tetapi sekalipun hanya sedikit waktu yang dihabiskan di rumah, tentu saja rumah adalah tempat yang diharapkan menjadi area bersantai yang nyaman untuk melepas penat setelah begitu lama bergulat dengan pekerjaan.
Tempat yang berkesan terkadang bukanlah sesuatu yang spesial untuk banyak orang. Bahkan, seringkali tempat yang berkesan bagi seseorang adalah tempat yang biasa bagi orang lain. Lalu, bagaimana sebuah tempat dapat menjadi berkesan bagi seseorang?
Suatu tempat  yang sering kita jumpai akan tetap menjadi tempat biasa apabila kita tidak melibatkan emosi ketika kita berada di tempat tersebut. Akan tetatpi, suatu tempat dapat menjadi sangat spesial bagi kita ketika kita pernah mengalami hal yang tidak biasa di tempat tersebut dan sangat membekas di hati kita. Seorang ibu pernah mengajak anak gadisnya pergi mengunjungi sebuah rumah kaca biasa di tempat kerjanya. Di sana sang ibu sering mengajari anak gadisnya menanam dan merawat tanaman. Aktivitas itu terjadi bertahun-tahun lamanya sebelum akhirnya ibunya meninggal dunia. Namun, sampai ketika anak gadis itu sudah tumbuh dewasa, ia masih sering mendatangi rumah kaca tersebut hanya untuk memutar memori indahnya bersama sang ibu dahulu.
Sesuatu yang berkesan tidak hanya berbentuk tempat, tetapi juga dapat berwujud benda-benda yang biasa berada di sekitar kita. Seorang pria memberikan sebuah mug kepada seorang wanita yang dikasihinya. Wanita yang juga mengasihinya itu menyimpan mug itu di atas meja tidurnya dan selalu memandanginya setiap pagi setelah bangun pagi. Mug itu mungkin hanya benda biasa bagi orang kebanyakan, tetapi bagi si wanita, mug itu memiliki arti kasih sayang dari prianya.

Sering kali seseorang tertipu dengan suatu tempat atau benda yang mengesankan. Mengesankan di sini berarti menarik dalam hal estetika dan kreativitas. Contohnya saja, sebuah rumah didesain oleh seorang arsitek ternama dengan kreativitas yang dikagumi banyak orang. Seseorang yang tinggal di dalamnya merasa terkagum-kagum melihat keindahan dan kreativitas itu. Akan tetapi, ketika beberapa lama dia tinggal di dalamnya, dia tidak merasakan adanya kenyamanan dan kecocokan rumah dengan kebutuhannya. Hal ini dapat terjadi pula dengan seseorang yang merantau ke kota besar dan melihat kemewahan dan kemegahan kota itu sebagai sesuatu yang mengesankan. Namun, sutu ketika ia menyadari bahwa tempat yang paling nyaman bagi dirinya tetaplah kampung halamannya. Dia merasa kesepian dan tertipu oleh hal-hal yang semula dianggapnya mengesankan dan ingin kembali pada tempat semula yang lebih berkesan sesungguhnya bagi dirinya.
Suatu tempat yang berkesan bukan hanya mempertimbangkan tentang keindahan dan kreativitas saja. Ia lebih dalam dari itu. Ia memainkan rasa dan emosi. Maka, kita tidak selayaknya melihat suatu tempat yang berkesan bagi banyak orang berarti berkesan dan cocok dengan kita. Kita harus lebih bijak dan dewasa untuk dapat memilih apa saja yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan kta, bukan hanya ikut-ikutan menilai sesuatu sebagai hal yang mengesankan hanya dari persepsi dan perkataan orang lain yang bahkan tidak banyak tahu mengenai diri kita.



Judul                  : Space and Place (Bab 10: Intimate Experince of Place)
Pengarang          : Yi-Fu Tuan
Data Publikasi    : University of Minnesota Press, 22 Januari 2001 - 248 halaman

Read More......
0

“Pisau” di Tangan Seorang Perancang Ruang

|

Kamar berkonsep Natural

Seandainya kita hidup di era 50 tahun yang lalu, kita masih bisa menikmati bentang-bentang alam di sekitar kita. Kita dapat bermain layang-layang, mengejar kupu-kupu, memancing di danau, atau bahkan berlarian di jalan-jalan tanpa harus takut tertabrak kendaraan. Namun, seiring bertumbuhnya teknologi yang memanjakan manusia dengan sedikitnya pergerakan dan memaksimalkan aktivitas, mulai terbentuklah ruang-ruang dalam. Hingga sampai saat ini, aktivitas di dalam ruangan mencapai 80% dan sisanya adalah aktivitas di luar ruangan.1


Memang, aktivitas dalam ruangan lebih menyediakan akses yang mudah dan aman. Namun, di balik teknologi yang memanjakan interaksi kita di dalam ruangan itu, terdapat semacam “bom waktu” berupa tekanan psikologis bagi kita seperti building sickness atau suatu gejala yang berpengaruh secara  fisik maupun mental kita atas respon ketidaknyamanan terlalu lama berada di dalam ruangan.2 Mengapa dapat terjadi building sickness?

Manusia, seberapapun berkembangnya teknologi yang memanjakannya, tetaplah makhluk yang sejatinya diciptakan untuk hidup berbaur dengan alam. Itulah mengapa, ketika kita berlibur ke pegunungan, pantai, atau lansekap alam yang lainnya, kita merasakan kedamaian tersendiri.

Salah satu efek yang tidak menyenangkan dari building sickness adalah dapat terjadinya perubahan pada pola pikir kita. Kita bisa saja menjadi malas, tidak disiplin, kurang percaya diri, bahkan menjadi tidak jujur,  hanya karena kesalahan desain suatu ruangan. Pernah membayangkan seseorang yang terpenjara dalam ruang tertutup yang kumuh dan lembab bertahun-tahun lamanya? Seperti itu lah efek ekstrim dari rancangan suatu ruang. Efek yang sama ketika kita salah memilih genre film yang kita tonton untuk waktu yang lama, perlahan dan tidak disadari. Rancangan ruang dalam ibarat pisau, dia bisa digunakan untuk memotong buah, tetapi dia juga bisa dijadikan alat untuk membunuh.

Dibalik efek negatif suatu perancangan ruang dalam, selalu ada potensi positif darinya yang dapat dimanfaatkan. Seorang perancang ruang dalam bisa saja membuat penghuni rancangannya menjadi semangat beraktivitas, produktif, percaya diri dan menjadi lebih bahagia berangkat dari rancangannya. Dengan menempatkan furniture yang nyaman dan program ruang yang baik, seorang perancang ruang dalam dapat memberikan solusi positif bagi permasalahan kliennya.

Disinilah seorang perancang bangunan dan ruangan diuji idealismenya. Di satu pihak, dia harus mengutamakan kebaikan penghuni rancangannya. Tidak sekedar indah, tetapi nyaman dan memberi solusi positif di dalamnya. Di sisi lain, banyak peluang bisnis properti dan furniture yang menggoda dengan keutungan materi dan ketenaran. Saya pribadi tetap berkeyakinan bahwa ketika seorang perancang ruang dalam dapat mempertahankan idealismenya dan bertanggung jawab atas rancangannya, semuanya itu (keuntungan materi dan ketenaran) pada akhirnya akan menghampirinya tanpa perlu diminta.
Sumber Referensi:
1 Pile, John F.. 1995. Interior Design. New Tork: Hary N Abrams Inc.
2 US Environmental Protection Agency research

Read More......
0

Mereka Bilang Saya Tidak Normal?

| Sunday, 11 December 2011

Setiap manusia diciptakan sempurna, karena penciptanya adalah Zat Yang Mahasempurna.

Saya terkagum-kagum pada semangat Om Pepeng yang masih kuat terasa sekalipun beliau terbaring di atas tempat tidur saat mengisi seminar kepemimpinan YDBP tempo lalu. Multiple schlerosis yang menggerogoti tubuhnya tidak lantas menyurutkan rasa syukur dan semangat muda di hatinya. Dulu beliau pelawak, kini beliau tetap menyenangkan dengan cara yang lain.

Ironisnya, kenapa, kita, yang masih sangat muda ini, yang masih mampu berjalan dan pergi kemana pun yang kita suka, terkadang masih sempat mengeluh dan tidak berbuat apa-apa. Betapa tidak bersyukurnya kita..

Ketika kita mengeluh, kita begitu iri melihat orang lain yang masih dapat tersenyum riang. Seolah-olah keberuntungan tidak berpihak pada kita. Namun, jika dipikirkan kembali, kenapa tidak kita coba “meriangkan hati” kita sendiri dan mencari  keberuntungan kita sendiri? Lagi-lagi saya teringat pada kata “bersyukur”.

Benar juga ya, bersyukur adalah cara seseorang mengungkapkan betapa beruntung hidupnya sehingga terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mengeluh.

Ya, Tuhan menciptakan setiap manusia dengan komposisi yang sama. Tidak ada kata mayoritas dan minoritas atau normal dan tidak normal. Definisi “normal” sendiri adalah definisi buatan manusia yang menggolongkan manusia secara “tampak” dan bukan secara komposisi keseluruhan. Saya, Anda, dia, mereka, kita semua sama. Ketika kita mensyukuri apa yang Telah Tuhan berikan kepada kita, apapun itu, maka kita akan mendefinisikan “normal” itu dengan “Ini lho saya! Saya seperti ini dan saya menikmati diri saya yang seperti ini.”.

Pernahkah timbul pertanyaan, “Apakah Tuhan Yang Maha Sempurna akan menciptakan sebuah kecacatan atau ketimpangan tanpa Dia kehendaki, tanpa Dia seimbangkan dengan kelebihan yang lain?” Tentu tidak! Semua pasti sudah ditakar sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu ciptaan dengan komposisi  SEMPURNA. Ada orang-orang berkebutuhan khusus terlihat “berbeda” karena dirinya lah yang membedakan diri, dirinya lah yang merasa kurang dari orang-orang di sekitarnya. Namun, masih banyak dari mereka yang lain, yang “menyejajarkan” diri mereka dengan orang-orang di sekitarnya, yang beraktivitas seperti orang kebanyakan, bahkan lebih produktif dari orang kebanyakan yang “normal”.

Membedakan diri dan menganggap diri sendiri selalu kurang dari orang lain sama artinya dengan menutup pintu bagi orang lain untuk menerima diri kita apa adanya. Padahal, seandainya tetap bersikap “biasa” pun dengan kespesialan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih menyenangkan dan bermanfaat.

Bukan juga bermaksud menyamakan dengan bunglon yang mengubah warna tubuhnya dengan lingkungannya. Jadilah berlian, yang sekalipun diletakkaan di air jernih, di air keruh, di lumpur, dia tetap bernilai sebagai dirinya sendiri, berlian. Menjadi diri sendiri, mencintai keadaan diri sendiri.

Masih punya alasan untuk mengeluh? Masih punya alasan untuk bersedih?  Kita bukan orang paling bodoh sedunia, bukan yang paling miskin sedunia, bukan yang paling berpenyakitan sedunia. Memangnya kita dapat membuktikan keyakinan yang menyatakan diri sebagai “yang paling-paling” itu? Apa parameternya? Validkah?

Sudahlah.. tidak perlu menguras tenaga dengan menilai diri kita dengan “yang paling-paling” itu. Selagi kita masih dapat bangkit, bangunlah! Jika kekurangan kita yakini tadi dapat diperbaiki, perbaikilah! Jika tidak, terimalah dengan rasa syukur bahwa Tuhan menciptakan racun dengan penawarnya. Tentu ada potensi-potensi lain yang dapat menyeimbangkan kekurangan itu. Gali dan kembangkan! Maka jadilah kita “manusia normal yang sesungguhnya”.

Depok, 9 Desember 2011 20:16

Read More......