0

Ketika Prosedur Hukum Dijadikan Alat Represif: Refleksi atas Kasus Tom Lembong dan Praktik Serupa di Dunia Profesi

| Wednesday, 6 August 2025

Di tengah tuntutan publik terhadap keadilan dan integritas, kita justru menyaksikan bagaimana hukum dan kewenangan bisa dimanfaatkan untuk membungkam kritik serta memperkuat dominasi kelompok tertentu. Salah satu contoh yang menjadi sorotan publik adalah kasus hukum yang menjerat Tom Lembong, di mana seorang auditor bernama Chusnul Khotimah memainkan peran kunci yang patut dipertanyakan dari segi netralitas dan etika profesional.

Apa yang terjadi pada Tom Lembong ternyata tidak berdiri sendiri. Pola yang sama saya lihat dan alami secara langsung dalam dunia profesi arsitek di pemerintahan, di mana seorang penilai dari PUPR—yang kebetulan adalah senior saya di kampus—memiliki peran yang sangat mirip dengan auditor dalam kasus Tom: berposisi sebagai pihak pengontrol narasi, sekaligus pembentuk opini yang mempengaruhi hasil penilaian dan keputusan akhir.

Kasus Tom Lembong: Kritik Diubah Jadi Delik

Tom Lembong, sebagai tokoh publik dan profesional berintegritas, dikenal sering mengkritisi kebijakan pemerintah secara terbuka dan argumentatif. Sayangnya, kritik tersebut justru dijadikan bahan serangan balik oleh kelompok yang merasa terganggu. Dalam proses audit terhadap Tom, Chusnul Khotimah muncul sebagai auditor kunci yang pernyataannya dijadikan landasan hukum untuk menggiring opini dan justifikasi sanksi terhadap Tom.

Yang dipertanyakan bukan hanya hasil auditnya, tapi juga kedekatan, potensi konflik kepentingan, serta dugaan keberpihakan auditor terhadap pihak tertentu, yang menjadikan proses hukum ini terasa jauh dari objektivitas.

Keterkaitan di Profesi Arsitek Pemerintahan: Ketika Penilai Tak Lagi Netral

Dalam ranah profesional, khususnya arsitek dan desain, saya menyaksikan fenomena serupa. Seorang penilai dari PUPR yang memiliki relasi personal dan historis, justru dipercaya menjadi juri dalam kompetisi yang diikuti oleh lawan. Keberpihakannya terlihat jelas, dan pengaruhnya sangat menentukan dalam proses seleksi.

Sama seperti Chusnul Khotimah dalam kasus Tom, penilai ini menggunakan posisinya sebagai alat legitimasi, bukan sebagai penjaga objektivitas. Ini sangat merugikan peserta lain yang berkompetisi dengan jujur dan profesional.

Benang Merah: Ketika Profesionalisme Dikorbankan

Baik dalam kasus Tom Lembong maupun dunia arsitek, terlihat pola yang mengkhawatirkan:

  • Orang yang berani mengkritik atau bersikap independen malah menjadi target.
  • Mereka yang memiliki posisi strategis, seperti auditor atau penilai, digunakan untuk melegitimasi keputusan sepihak.
  • Sistem tidak memiliki mekanisme koreksi yang memadai, bahkan cenderung melindungi pihak yang menyalahgunakan wewenang.

Harapan dan Solusi ke Depan

  1. Audit Etik terhadap Auditor & Penilai: Profesi seperti auditor dan juri kompetisi harus tunduk pada standar etik yang ketat. Bila ditemukan potensi konflik kepentingan, harus segera diganti atau dinyatakan tidak valid.

  2. Perlindungan terhadap Pihak yang Dikritik secara Tidak Adil: Orang-orang seperti Tom Lembong tidak seharusnya menjadi korban karena menyampaikan pendapat. Sebaliknya, negara dan institusi harus melindungi kebebasan intelektual.

  3. Reformasi Prosedur Penunjukan Auditor dan Penilai: Harus ada sistem seleksi dan pengawasan yang menjamin bahwa orang-orang yang berada dalam posisi strategis benar-benar independen.

  4. Budaya Transparansi dan Akuntabilitas dalam Profesi: Dunia profesi tidak boleh dibiarkan menjadi alat balas dendam personal atau politik. Kita membutuhkan sistem yang adil dan transparan dalam semua lini, mulai dari audit sampai penjurian.

Penutup

Apa yang dialami oleh Tom Lembong bukan hanya persoalan pribadi—ini adalah gambaran dari krisis sistemik dalam penegakan hukum dan profesionalisme. Ketika auditor seperti Chusnul Khotimah menjadi alat justifikasi bukan penyeimbang, dan ketika penilai kompetisi profesional berperilaku serupa, maka kita harus bertanya: siapa sebenarnya yang harus diaudit?

Sudah waktunya kita mengedepankan kebenaran, etika, dan keadilan di atas kepentingan kelompok atau relasi personal. Hanya dengan itu, kita bisa membangun dunia profesi yang sehat dan sistem hukum yang benar-benar berpihak pada keadilan.

“Jangan biarkan profesionalisme dibunuh secara perlahan oleh diamnya orang-orang baik.”

Read More......
0

2024 Recap: Klarifikasi dan Penegasan Kebenaran Mengenai Kasus Hukum Ibu Siti Kharisah

| Tuesday, 31 December 2024

Dalam beberapa waktu terakhir, nama saya, Tiara Deysha Rianti, telah dicatut dalam publikasi hukum dan media yang menyoroti kasus di Kebumen dengan tuduhan tidak berdasar terkait keterlibatan dalam tindak pidana korupsi. Klarifikasi ini saya buat untuk meluruskan fakta, sekaligus memberikan ruang bagi keadilan yang patut diterima oleh Ibu Siti Kharisah sebagai tertuduh.

Fakta Kasus dan Putusan Terbaru
Kasus ini bermula dari tuduhan korupsi yang menimpa Ibu Siti Kharisah, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah di Kebumen. Tuduhan melakukan korupsi yang menimbulkan kerugian negara. Namun dalam proses Peninjauan Kembali (PK), sejumlah fakta penting telah terungkap:
  • Tidak Ada Kerugian Negara
Dalam pelaksanaan proyek tersebut, tidak ada Kerugian Keuangan Negara yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan.  Untuk kepentingan pendakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menggunakan hasil audit dari pihak lain yang tidak memiliki kewenangan resmi berdasarkan Undang-Undang untuk mengevaluasi proyek. JPU menggunakan perhitungan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Kebumen untuk menuntut tertuduh. Padahal di Indonesia satu-satunya lembaga yang berwenang mengaudit untuk menetapkan kerugian keuangan negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan. Artinya, ada indikasi memaksakan diri untuk membuat tuntutan agar jatuh vonis hukuman. Langkah ini menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas tuduhan yang diajukan, serta menunjukkan bahwa kasus ini lebih bermuatan politis daripada murni penegakan hukum.

  • Motif Politik dan Kepentingan Tertentu
Proses hukum yang dijalani Ibu Siti Kharisah menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa kasus ini bermuatan politik dan digunakan untuk memenuhi kepentingan beberapa pihak. Hal ini semakin mengaburkan upaya penegakan hukum yang seharusnya dilakukan secara objektif dan profesional. Awalnya JPU mengungkapkan tidak ada kerugian negara yang ditimbulkan. Namun, JPU tiba-tiba menghadirkan bukti dari pihak eksternal (Dinas PUPR Kab. Kebumen) setelah berjalannya pemeriksaan sehingga terkesan seperti diada-adakan. JPU bahkan mengatakan sendiri seperti disampaikan ke media Kebumen Ekspress:

Karena akhirnya tidak ada kerugian negara yang ditimbulkan, JPU menggunakan penyalahgunaan wewenang untuk menuntut Ibu Siti Kharisah.

 

  • Pemalusan Dokumen oleh KN
Pada sidang Peninjauan Kembali (PK) terbukti adanya oknum bernama KN yang menjabat sebagai Kepala Bidang melakukan pemalsuan dokumen berkaitan dengan wewenang Ibu Siti Kharisah.


  • Putusan Akhir bahwa Mahkamah Agung Mengabulkan Permohonan Peninjauan Kembali (PK) atas nama Siti Kharisah 
Berdasarkan bukti dan fakta yang diajukan, putusan akhir menyatakan bahwa permohonan Peninjauan Kembali (PK) Ibu Siti Kharisah dikabulkan oleh Makhamah Agung. Selain itu, hak-hak beliau sebagai pensiunan PNS telah dipulihkan, termasuk pembayaran pensiunan bulanan dan pengembalian denda sebesar 200 juta rupiah. Meski demikian, pengembalian denda sebesar 200 juta yang sebelumnya dijatuhkan masih menjadi proses yang panjang.



Kekeliruan dalam Publikasi
Dalam beberapa publikasi hukum dan media terjadi kesalahan fatal dalam mencatut nama saya tanpa bukti valid. Selain itu, publikasi tersebut gagal mencerminkan fakta-fakta penting yang mendukung pembebasan Ibu Siti Kharisah yakni putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK).

Posisi Saya
Sebagai individu yang tidak terlibat, saya menuntut tanggung jawab dari pihak-pihak terkait untuk mencabut klaim-klaim tidak berdasar yang mencemarkan nama saya. Publikasi yang dibuat tanpa verifikasi yang memadai hanya memperkeruh situasi, menghambat keadilan, dan melukai nama baik pihak-pihak yang terlibat.

Harapan dan Pelajaran
Saya berharap kasus ini menjadi pembelajaran bersama bahwa proses hukum harus didasarkan pada keadilan dan fakta, bukan asumsi atau interpretasi sepihak. Hak seseorang untuk mendapatkan keadilan tidak hanya berlaku bagi Ibu Siti Kharisah tetapi juga bagi individu lain yang turut disebutkan tanpa bukti.

Menutup tahun 2024 dengan terbukanya fakta-fakta dan keadilan, kasus yang sempat mencoreng nama baik Ibu Siti Kharisah akhirnya menemukan titik terang. Setelah melalui proses panjang, akhirnya Mahkamah Agung mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK) atas kasus yang menimpa beliau. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa proses hukum yang dijalani sebelumnya sarat dengan kepentingan politis dan penggunaan bukti yang tidak valid, mengaburkan keadilan yang seharusnya ditegakkan.

Penutup
Saya percaya bahwa keadilan bukan hanya tentang menang di pengadilan, tetapi juga tentang mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat. Untuk itu, kami menyerukan kepada seluruh pihak untuk bersama-sama mematuhi etika jurnalistik dan menjunjung tinggi keadilan demi kebenaran.


Bagi rekan-rekan pembaca blog ini, saya menghimbau untuk selalu mencari kebenaran berdasarkan fakta sebelum menyimpulkan sesuatu. Hanya dengan keberpihakan pada keadilan, kita dapat menciptakan sistem hukum yang lebih baik untuk bangsa ini.

Hormat saya,
Tiara Deysha Rianti

Read More......
0

Pencitraan vs Realita Kehidupan Rumah Tangga

| Saturday, 1 October 2022

Suatu hari, di perkumpulan bareng teman-teman perempuan jaman SMA. Ada satu teman yang nyeletuk, 


Ti, apa alasanmu milih suamimu buat nikah? Soalnya di tempatku, nama kamu bagus banget. Nilai kamu plus plus plus. Tapi suamimu, kok kamu mau sih sama dia?

Seketika, saya kaget dong. Kok, bisa teman saya satu ini mempertanyakan hal seperti itu. Sebenarnya saya tidak suka ditanya hal-hal privat seperti itu. Karna itu hak saya ya mau hidup dan memilih hidup seperti apa. Apalagi saya sudah istikharah juga. Jadi mempertanyakan hal itu sama seperti mempertanyakan istikharah saya. Walaupun kemudian saya jelaskan. Ya, sifatnya cocok, agamanya baik, pintar, dermawan. Menurut saya enough, tapi si penaya masih kurang puas seakan tidak percaya. Maunya dengar saya curhat? Tapi saya bukan tipe curhat. 

Memang suami saya punya kekurangan, tapi kelebihannya juga banyak. Kekurangannya bisa saya maklumi dan kelebihannya bisa saya syukuri. Bukankah sudah cukup? Lagian saya juga punya kekuranga. Dan, so far, ya cuma suami saya yang sanggup sabar menghadapi kebengkokan saya dan tidak berekspektasi. Yang lalu-lalu cuma bisa menerima lebihnya saya. Hanya menilai dari plusnya. Terlalu berlebihan dalam berekspektasi. Tidak bisa menerima sisi manusiawi saya

Saya tidak peduli sih apa yang orang katakan tentang suami saya. Apalagi tampilan suami saya memang agak sangar, berotot, dan tidak ramah. Ape lo? Karena pernikahan itu kita yang jalani. Kita yang tau betul apa yang cocok dengan kita. Ngga papa dibilang ngga cocok, asal pada kenyataannya kita nyaman menjalani kehidupan sehari-hari tanpa merasa bosan. Memang  beberapa hal ada yang kontras antara suami dan saya. Tapi kami berusaha mengimbangi satu sama lain dan saling dukung untuk mengejar ketertinggalan. Kami mencoba berjalan seimbang dan beriringan.

Kriteria saya soal akhlak dan agama di atas nilai- nilai materialis duniawi. Dan itu saya temukan pada suami. Karena soal hal duniawi, sangat mudah dikejar. Namun, soal sifat dan agama, tidak banyak yang bisa saling mengimbangi. Kalau yang saya mau hanya soal pendidikan, materi, pekerjaan, kepintaran, popularitas, mungkin saya sudah nikah dari kapan tahun. Tapi, sebagai syarifah, tidak pantas untuk menggunakan itu sebagai kriteria. Bagaimana nanti pertanggung jawaban saya di hadapan zuriyat?

Tidak ada foto-foto estetik rumah tangga kami. Jarang lah postingan di media sosial tentang rumah tangga kami. Kami tidak hidup dalam citra. Kami hidup dalam kenyataan. Adem, ayem, sejahtera. Itu sudah cukup. Lagian kalau suami saya terlihat banyak lebihnya, nanti jadi banyak yang mau punya, deh. Saya tidak rela bagi-bagi, kecuali yang lain mau die ya, haha.

Pernikahan kita diuji dengan apa yang kita niatkan saat menikah. "Barangsiapa ingin keagungan (dalam pernikahan) maka ia diuji dengan kehinaan. Barangsiapa yang memilih ingin kaya maka diuji dengan kemiskinan. Barangsiapa menikah karena agamanya maka Allah himpun baginya kemuliaan, harta dan Agama." Aamiin, aamiin, ya rabbal 'alamain.

Read More......
0

Memilih Dengan Cara-Nya: Menggenap

| Monday, 19 September 2022

It has been 13 years since the first time I wrote on my blog. Dan taun ini saya sudah menikah setahun lamanya. It's such a long journey. Tapi kalau disuruh memilih apa yang mau diubah di masa lalu. Tidak ada. Karena saya yang hari ini tidak akan ada tanpa melalui proses panjang dari masa lalu sampa hari ini. May dad passed away in 2017 and everything changed. Wisdom and experience is valuable thing.


Okay, back to topic. Menggenap.

Sebelum menikah, sebenarnya saya agak skeptis tentang kehidupan pernikahan. Karena saya banyak melihat kerabat maupun rekan yang sudah menikah, tidak bahagia dan hidup dengan banyak tuntutan. Jadi ya, paling gitu-gitu doang paling, boring, dan demanding. So, here we go.

Tapi, ternyata pernikahan itu indah.

Lho kok bisa?

Jadi setelah lulus kuliah dan sempat pulang kampung, saya sempat menimba ilmu (ngaji) dengan seorang guru agama, diajak oleh adik saya. Namanya Bapak Munfarid, ulama ilmu hikmah, keturunan Sunan Drajat. Beliau sudah saya anggap bapak kedua bagi saya. Bisa dibilang begini, "Dalam hidup kita punya dua bapak. Bapak pertama adalah bapak kandung, yang darinya nasab mengalir dalam darah kita. Bapak kedua adalah guru kita, yang darinya ilmu mengalir dalam jiwa kita. Bapak kandung membawa kita dari surga ke dunia. Bapak kedua mengantarkan kita dari dunia kembali ke surga." Semoga bisa senantiasa menjaga adab terhadap guru kita.

Saya cukup beruntung, melalui hari-hari sulit saya dengan mendengarkan hikmah yang diajarkan beliau. Dari beliau saya menyadari jati diri saya, nasab saya, dan privilege yang saya punya. Termasuk soal menggenap.

Saya menikah di usia 28 tahun. Usia yang cukup tua sebenarnya. Karena awalnya saya menikah maunya umur 21, haha. Tapi saya bersyukur menikah agak terlambat. Karena kalau tidak terlambat, mungkin hidup saya tidak sebahagia ini. Maksudnya, usia yang sudah cukup matang dan bijak untuk mengendalikan pikiran dan emosi untuk memasuki bahtera rumah tangga. Bisa dibayangkan betapa masih bocil dan ambisnya saya di ukur 21, dan di umur 28, everything in the right path and so calm.

Perjalanan saya menuju pernikahan tidak mudah. Bertemu beberapa laki-laki yang ternyata bukan jodoh saya, yah, cukup merepotkan dan menguras tenaga dan pikiran. Tapi wong namanya bukan jodoh, cukup sampai di situ saja, bukan masa depan.

Jadi, setiap kali saya bertemu laki-laki, saya langsung ceritakan ke Guru dan ke Bapak (selama beliau masih hidup), juga ke adik saya, karena saya segera menemukan solusi. Termasuk tata cara sholah taubat, istikharah, dan hajat. Jadilah setiap yang dekat dengan saya, saya sholatin deh, hehe. Maksudnya, saya istikharahkan, ini baik ga ya buat saya. Baik dan cocok menurut orang lain, belum tentu baik dan cocok buat saya. 

Setiap selesai sholat, biasanya saya dikasih petunjuk berupa mimpi atau sebentuk kemantapan hati dan petunjuk lain yang terpampang nyata di depan mata. Oh, yang ini skip nih. Gangguan jiwa. Yang ini skip, sholatnya bolong-bolong. Yang itu skip, bersekutu dengan jin (ini epic sih haha). Dan skip karena terlalu ambisius mengejar prestasi duniawi.

Dan akhirnya, saya bertemu dengan laki-laki yang menjadi suami saya hari ini. Mengenalnya lebih jauh selama 4 bulan, dikenalkan oleh adik saya. Dalam istikharah saya yang kemudian termaktub dalam hati, barangkali laki-laki ini bukan yang terlihat spesial, bukan pula yang terlihat menonjol. Tapi dengan laki-laki ini, menikah sebagai ibadah akan mudah mengantarkan jalan menuju surga.

Benar. PilihanNya tidak pernah keliru.

Saya yang dulu pernah skeptis, kini berubah 180° dan jadi punya kesimpulan. Ya, menikah dengan orang yang tepat, dengan cara yang tepat, dan niat yang tepat, adalah bibit dari keberkahan dari pernikahan. Barakallahu laka. Kelebihannya menjadi anugerah, kekurangannya menjadi berkah. Alhamdulillah.


Dalam rumah tangga, terkadang ada kerikil-kerikil kecil. Tapi itu bukan masalah. Bisa dihitung dalam setahun kami bertengkar. Itupun hanya saat saya hamil bawaan hormon hehe. Selebihnya, setiap hari adalah tawa dan sepertinya keluarga kecil kami punya bakat pelawak, haha. Family of sanguins. Tuntutan tidak ada sih. Hanya kompromi dan kesepakatan untuk grow together, aku dan kamu mengambil peran masing-masih untuk satu tujuan bersama 

Ternyata menikah dengan mengandalkanNya, dengan mengutamakan agama itu berproses dengan indah ya. Everyday is full of joy! Mashaa Allah Tabarakallah. ♡



Read More......
0

PEMBUKTIAN

| Monday, 15 August 2016

Diremehkan memang menyebalkan. Rasanya ingin sekali membuktikan bahwa kamu bukanlah orang yang pantas diremehkan.

Lalu, kamu berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa apa yang diremehkannya itu keliru. Bekerja keras sampai kaya raya karena pernah dihina miskin. Make over cantik karena pernah dihina jelek. Diet habis-habisan karena pernah dihina gendut. Belajar siang malam karena pernah dihina bodoh. Menjadi alim karena pernah dihina bejat. Buat apa....

Sepintas terlihat oke saja menjadikan hinaan orang sebagai pelecut motivasi. Tapi apakah kamu sungguhan bahagia dengan cara seperti itu?

Mengapa justru menghabiskan waktu, tenaga, pikiran untuk membuktikan pada orang-orang yang tidak penting, yang memberi manfaat pun tidak? Come on.. mereka hanya memancing amarahmu saja. Mereka hanya ingin membiaskan tujuan hidupmu yang sesungguhnya. Menjadikanmu orang lain. Kalau kamu terpancing, maka artinya mereka menang. Memang beberapa orang punya "sense of humor" yang buruk. Atau ya, mereka sedang sengaja menguji kesabaranmu. 

Kalau memang kamu tidak pantas diremehkan, waktu sendiri yang akan membuktikan bahwa kamu memang tidak pantas diremehkan.

Lebih baik membuktikan pada yang dicinta saja: Allah dan kekasihNya, keluarga, pasangan halal, teman-teman. Membuktikan bahwa cintamu sungguhan tulus.

Kalau ingin jadi kaya, cantik, sukses, pintar, cakap, sholeh, silahkan. Tapi, biarlah keinginan itu berasal dari dalam diri sendiri, karena terinspirasi, karena adanya cinta, karena adanya harapan untuk jadi orang yang lebih baik di masa depan.

Lalu, biarkan hidupmu berjalan sebagai dirimu sendiri dengan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan yang hadir dari dalam jiwa.

Rasanya lebih membahagiakan, menjadi diri sendiri dan mencapai apa-apa yang memang sejak awal menjadi bagian dari tujuan hidupmu yang sesungguhnya. 
 

Read More......
0

Pada Mereka Surga Menaruh Rindu

| Tuesday, 31 March 2015

Jangan terlalu percaya diri saat berada di puncak dan jangan terlalu minder saat berada di bawah. 

Entahlah, tapi memang banyak orang yang terlalu percaya diri saat di puncak (hingga dapat berlaku sewenang-wenang pada orang di bawah), mengalami post power syndrom saat berada di bawah. Sebuah sindrom keminderan berupa harga diri yang terluka dan merasa bukan siapa-siapa. Krisis.

Pernahkah menemukan orang-orang yang di masa lalunya berprestasi, juara sekolah, juara olimpiade, primadona kampus, tiba-tiba menjadi orang paling mengeluh di masa tuanya? Ataukah orang-orang yang pernah berkuasa, menduduki jabatan-jabatan yang tinggi di perusahaan, menjadi bahan perbincangan yang mengagumkan di mana-mana, lalu menjadi orang yang menutup diri dan pemarah saat memasuki masa pensiunnya? Atau mungkin salah satu di antaranya adalah kita?

Kesenangan dunia hanya permainan dan senda gurau. Seperti naungan awan yang bisa pergi kapan saja. Jika dunia membuat orang tertawa sedikit, duniapun membuat orang menangis lebih banyak. Jika dunia membuat orang  gembira sehari, duniapun membuat orang bersedih seribu tahun. Jika dunia memberi kesenangan sebentar, duniapun menahan kesenangan itu dalam waktu yang lama. 
Seperti dikatakan oleh Ibnu Mas’ud ra.
"Pada setiap kegembiraan terdapat kesedihan. Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kegembiran melainkan rumah itu dipenuhi juga dengan kesedihan.”

Tapi apa jadinya kalau kesedihan terjadi berlarut-larut hingga membuatnya menjadi sebuah krisis yang merusak banyak aspek kehidupan lainnya? Maka patutlah kita bertanya pada diri sendiri: "Hai, iman, apa kabarmu hari ini?"
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan tidaklah hal tersebut terjadi kecuali bagi orang beriman. Apabila mendapat kesenangan dia bersyukur, maka bersyukur itu baik baginya. Dan apabila ditimpa kesusahan dia bersabar maka bersabar itu baik baginya.” (H.R. Muslim)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kawan mengira saya adalah orang yang penuh keberuntungan dan kesenangan, tidak punya beban dan tanggungan. Tentu saja tidak begitu. Satu-satunya yang membuat saya merasa beruntung dan segera move on adalah pesan-pesan Allah seperti di atas. Setiap orang dititipkan padanya masalah-masalah yang harus diselesaikan dengan kadar yang berbeda-beda. Hal itu membuat saya melihat orang-orang shalih/shalihah nan bijak dan berintegritas, atau orang-orang yang sukses dunia sekaligus akhirat, sambil bertanya-tanya, Apa saja yang telah ia lalui hingga membuat mereka semenakjubkan itu?

Seperti halnya pertanyaan imaji saya pada sosok Khadijah ra., wanita paling mulia nan dermawan yang begitu saya kagumi...
Mungkinkah ia hanya wanita manja yang berpangku tangan, menanti keajaiban, menanti seorang pangeran berkuda putih datang menjemputnya ke istana? Yang ada justru sebaliknya. Tentu saja kita bisa juga bertanya, mengapa ia menjadi satu-satunya istri yang semasa dirinya hidup, tidak terbesit sedikit pun Rasulullah ingin memadunya? Siapa sih wanita di dunia ini yang tidak ingin menjadi satu-satunya ratu di hati rajanya?
Hal-hal seperti itu yang membuat lintasan tanya di kepala saya, apakah yang telah engkau lalui hingga membuat dirimu semenakjubkan itu, wahai Wanita yang pada Jibril, Allah menitipkan salamNya padamu?

Mush’ab ibnu Sa’d pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW seperti berikut:
“Ya Rasulullah, manusia mana yang paling berat menanggungkan bala’ (ujian iman)?”. Jawab Nabi: “Para Nabi, kemudian yang seumpamanya. Kalau seseorang ringan (lemah) dalam din (agama)nya, maka ia diberikan cobaan sesuai dengan kadar dien-nya. Dan kalau agama seseorang kuat, maka kadar ujian iman yang Allah berlakukan terhadap dirinya berat. Senantiasa seorang hamba menerima bala’, sehingga dosanya hapus…” (H.R. al-Bukhari)

Allah SWT berfirman:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surge, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ali Imron: 142)

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (Munafik) dari yang baik (Mukmin)…” (Q.S. al-Baqoroh : 179).


Banyak orang bermimpi menjadi orang-orang yang harumnya terkenang sepanjang masa.
Apakah sebanyak itu pula yang siap menjalani konsekuensinya?

Kota Roma tidak dibangun dalam sehari.
Begitu juga dengan pribadi-pribadi yang agung,
pribadi-pribadi yang padanya surga menaruh rindu.

Di penghujung Maret 2015,
Tiara Deysha



Read More......
0

Menghadapi Prasangka Buruk

| Tuesday, 3 March 2015

I got the point!  

Setelah beberapa kali berhadapan dengan beberapa orang yang sensitif dan mudah berprasangka buruk, akhirnya ditemukanlah penyebab sekaligus solusi untuk menghadapinya.

Ada beberapa kemungkinan umum mengapa orang mudah menjadi sensitif dan  berprasangka buruk:
1. Dia minder terhadap Anda.
2. Dia kurang dapat menangkap maksud pembicaraan Anda.
3. Belum nemu lagi hehe

Alasan pertama meminta Anda untuk merangkulnya. Orang yang minder merasa disalahkan banyak orang, merasa orang lain tidak mengerti dirinya, tidak berdaya, dan kesepian. Harga diri yang terluka membuatnya berpikir bahwa orang yang 'lebih beruntung' darinya akan berlaku sewenang-wenang dan meremehkannya. Anda akan dianggap sombong, arogan, dan keras hati tanpa sebab yang jelas. Sapalah ia terlebih dahulu, karena baginya, untuk menyapa Anda terlebih dahulu membutuhkan lebih banyak keberanian.

Alasan kedua meminta Anda untuk mengulang atau menjelaskan maksud sikap atau perkataan Anda lebih lanjut. Beberapa orang tidak langsung nyambung dengan topik pembicaraan Anda. Sebaiknya, Anda menurunkan level pembahasaan Anda agar lebih mudah dicerna. Walaupun kadang, hingga jungkir balik dan mulut berbusa pun tetaaap saja ada yang tidak mudeng sampai Anda tak tahu harus berbuat apa. :"D
Kalau sudah begitu, Anda hanya perlu menjadi pendengar yang baik dan mengiyakan pendapatnya. Kalau tidak sanggup sabar, tinggal pergi saja. Menambah pembicaraan hanya akan menambah prasangka, bisa-bisa Anda dikira mempermainkannya. How complicated! :"D

Kesalahan menangkap maksud pembicaraan ini juga sering terjadi pada orang tua lanjut yang sudah mulai kurang baik pendengaran dan penglihatannya. Ulangi sampai maksud benar-benar ditangkap dan terutama; jangan membentak. Cukup keraskan volumenya dengan penekanan yang normal, atau mendekatlah. (Remember that we shouldn’t say "Ah" to our parents - Qur’an)

***

Alasan di atas adalah alasan eksternal umum yang melibatkan orang lain dalam pembentukan prasangka. Kalau alasan internal, biasanya karena lapar, ngantuk, atau sedang tidak punya uang. :"D Alasan internal bersifat temporal dan akan hilang saat penyebabnya teratasi.

Solusi ditujukan untuk saya dan Anda sebagai pelaku. Karena kita tidak berhak menuntut orang lain untuk berubah menjadi lebih baik atau lebih bijak sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa membawa diri untuk membuat kita dan orang lain yang berada di sekitar kita sama-sama merasa nyaman. We should be better than yesterday.

#eveninginsight
#HappinessProject

Read More......
0

Menegosiasikan Pilihan: UI vs ITB, Who will win the heart?

| Sunday, 24 August 2014

Saya mau buka kartu.

Empat tahun yang lalu saya sempat bersitegang dengan Bapak. Sepertinya, tidak hanya saya ya yang berselisih paham dengan orang tua untuk urusan pilihan hidup. Semua orang tua ingin anaknya berhasil. Namun, seringkali keinginan orang tua berbeda dengan keinginan anak. Di sini, anak belajar bernegosiasi.

Bermula dari...

"Selamat, Anda DITERIMA sebagai mahasiswa SAPPK ITB" (USM ITB 9 Juni 2010)

"Selamat! Anda diterima di Arsitektur Interior UI" (UMB 10 Juni 2010)

What an amazing day! Ya, karena dua hari itu.

"Bapak, yang akan kuliah itu Rara. Yang merasakan kuliah dan pasca kuliah nanti juga Rara. Rara punya alasan tidak memilih ini. Barangkali jurusan ini memang lebih bonafit dari jurusan di UI yang masih terbilang baru, belum terakreditasi. Tapi, percayalah, Pak, pilihan ini tidak akan keliru."

Beberapa hari berikutnya, Bapak masih tetap menanyakan kemungkinan saya mengambil jurusan di kampus Ganesha itu.

"Di UI Rara bisa lulus lebih cepat, 7 semester lho, Pak. Peluang untuk bayar kuliah sendiri juga banyak. Dan, jangan khawatir Pak, UI kan ga kalah keren dari ITB."

Kurang lebih begitu cara saya merayu Bapak. Walaupun saya tahu kalau di ITB bisa lulus 6 semester. Tapi masa sih saya mau kuliah terus. Kan mau juga merasakan organisasi, hangout bareng teman, bisnis, tidur, hehe. Kuliah must be colorful! Hari ini saya mikir, nekad juga saya waktu itu. Memangnya ada yang menjamin bisa lulus cepat 7 semester. Sok pinter banget deh. Mau bayar kuliah sendiri? Sok kaya banget lah. Belum ngaca BOP nya berapa. Kayaknya Ganesha lebih ramah, tapi kenapa kamu sengaja menyusahkan dirimu sendiri? :’)

Berawal dari sok-sokan itu, seiring berjalannya waktu semua benar-benar kejadian. I get my softloan from YDBP and finnaly graduated on 7th therm. Walaupun softloan memang belum bisa menutup BOP, tapi semua aman terkendali.

Kuliah adalah masa-masa yang mendewasakan. Terasa sekali susahnya membiayai hidup sendiri, kuliah satu matkul bobotnya 10 sks. Begadang tugas? Sepertinya saya termasuk jarang begadang untuk urusan kuliah. Yang ada tidur 2-3 jam untuk menggarap agenda lain, hehe.

Tantangan berikutnya adalah jurusan di kampus hijau lebih keren daripada jurusan di Ganesha. Wah itu sih bisa-bisanya saya aja. Tapi, di tingkat dua justru akal-akalan itu kejadian. Atas rekomendasi seseorang, saya memasukan tugas perancangan saya ke sebuah kompetisi arsitektur nasional. Dan alhamdulillah, saya berkesempatan menjadi top three winner, yang mayoritas pesertanya mahasiswa tingkat akhir dan pascasarjana. Dua pemenang lainnya adalah pascasarjana SAPPK! Waktu itu saya belum bisa mengoperasikan sketch up dan langsung otodidak mempelajarinya H-1 pengumpulan. Betapa kacaunya!

Amazing moment yang lain adalah tepat sebelum kelulusan saya, Arsitektur Interior UI mendapatkan akreditasinya yang pertama, A! Dengan kepala jurusannya dinobatkan sebagai kepala jurusan berprestasi terbaik di UI, Dr. -Ing. Ir. Dalhar Susanto. Penguji skripsi saya dan seseorang misterius yang merekomendasikan saya mengikuti kompetisi nasional itu. Takdir namanya, hehehe.

Rasa-rasanya, kehidupan kuliah memang agak kacau. Banyak hal yang belum termenej dengan baik. Kebanyakan terjadi begitu saja. Tapi untungnya, saya tetap dapat melunasi janji saya pada Bapak, jurusan ini tidak kalah keren dari jurusan kampus Ganesha. :)

Dan sekarang, kehidupan pasca kampus tengah dijalani. Tidak beda jauh dari empat tahun lalu, pilihan-pilihan sulit yang datang merayu. Dan Bapak yang lagi-lagi bertanya.

Tentu saja, saya punya pilihan sendiri, yang sepertinya bukan pilihan populer para freshgraduate. Tapi saya percaya, Allah tengah merencanakan sesuatu yang... tidak dapat dinilai dari gaji besar dan titel bergengsi. Dan saya, adalah bagian dari rencana besar Allah itu.

Pilihan-pilihan dunia itu boleh saja terus merayu, tapi hati dan raga ini biarlah tetap merindu akhirat. Kalau kata Abu Bakar,

"Ya, Allah. Biarkan dunia dalam genggamanku dan akhirat di dalam hatiku."

Read More......
0

Kembalilah...

| Monday, 24 March 2014

Tidak ada yang lebih berharga melebihi kembalinya hati seorang hamba kepada Rabbnya. Tidak pula ia bisa dibandingkan dengan harta-harta gemerlapnya dunia. Tidak akan mampu.
Kenapa engkau bersikeras memberiku banyak hal? Apakah aku memintanya? Apakah aku membutuhkannya? Apakah aku begitu gila dengan hal-hal duniawi itu?
Tidak! Sekali kali tidak.
Yang kuminta darimu adalah hati yang pasrah menghamba padaNya. Hati yang yakin bahwa Dia Yang Mahakaya, Mahakuasa. Hati yang selalu tercurah merindukannya.
Dia sudah begitu merindu kehadiran hatimu. Yang dahulu begitu taat, yang dahulu banyak mengingatNya, yang dahulu begitu ikhlas dan tawadu', yang dahulu lebih banyak berprasangka baik, yang dahulu lebih sibuk memperbaiki diri. Dia sangat rindu padamu.
Aku akan terus berdoa, akan terus berdoa, sampai diriku lelah. Tapi tentu tak ada lelah. Jika kawan-kawanku saja terus ada dalam doa-doaku, mengapa aku harus berhenti berdoa untukmu? Allah tidaklah tidur. Dia pasti mendengar doaku bukan? Dia pasti mendengarnya. Dialah Allah Yang Maha membolak-balikan hati. Ya Fatah, Ya Lathif..
Bukankah kita sudah berjanji untuk bersama menempuhi jalan itu?
Bukankah kita berjanji menjadi insan yang selalu mencintaNya?
Bukankah surga yang jadi tujuan akhir kita?

Read More......
0

Yakinlah, dan Pejamkan Mata | oleh Salim A. Fillah

| Monday, 10 March 2014

  
    iman adalah mata yang terbuka,
    mendahului datangnya cahaya
    tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
    lalu rasakan hangatnya keajaiban

Saya tertakjub membaca kisah ini; bahwa Sang Nabi hari itu berdoa.

Di padang Badr yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh ‘aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebathilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.

Doa itulah yang mencenungkan saya. “Ya Allah”, lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.

Andai boleh lancang, saya menyebutnya doa yang mengancam. Dan Abu Bakr, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun untuk menggambarkan perasaan saya. “Sudahlah Ya Rasulallah”, bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janjiNya padamu!”

Doa itu telah menerbitkan sejuta tanya di hati saya. Ringkasnya; mengapa begitu bunyinya? Tetapi kemudian, saya membaca lagi dengan sama takjubnya pinta Ibrahim, kekasih Allah itu. “Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu katanya. Ah ya.. Saya menangkap getar yang sama. Saya menangkap nada yang serupa. Itu iman. Itu iman yang gelisah.

Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.

Kita tahu, di Badr hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Berbeda dari Sang Nabi, kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.

Itukah keyakinan yang sempurna? Bukan. Itu justru kenaïfan. Naif sekali.

Mari bedakan kedua hal ini. Yakin dan naïf. Bahwa dua manusia yang dijamin sebagai teladan terbaik oleh Al Quran memiliki keyakinan yang menghunjam dalam hati, dan keyakinan itu justru sangat manusiawi. Sementara kenaifan telah diajarkan Iblis; untuk menilai sesuatu dari asal penciptaan lalu penilaian itu menghalangi ketaatan pada PenciptaNya. Atau seperti Abu Jahl; rela binasa daripada mengakui kebenaran tak di pihaknya. Atau seperti Khawarij yang diperangi ‘Ali; selalu bicara dengan ayat-ayat suci, tapi lisan dan tangan menyakiti dan menganiaya muslim lain tanpa henti. Khawarij yang selalu berteriak, “Hukum itu hanya milik Allah!”, sekedar untuk menghalangi kaum muslimin berdamai lagi dan mengupayakan kemashlahatan yang lebih besar. Mencita-citakan tegaknya Din, memisahkan diri di Harura dari kumpulan besar muslimin, dan merasa bahwa segala masalah akan selesai dengan kalimat-kalimat. Itu naïf.

Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.

Dan dia memejamkan mata. Lagi-lagi memejamkan mata.

Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.

Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.

Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya. Seperti Nuh harus membuat kapal, seperti Ibrahim harus menyembelih Isma’il, seperti Musa harus menghadapi Fir’aun dengan lisan gagap dan dosa membunuh, seperti Muhammad dan para sahabatnya harus mengayunkan pedang-pedang mereka pada kerabat yang terikat darah namun terpisah oleh ‘aqidah.

Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya jua kita akan pulang..

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

Read More......
0

Hadiah Terindah dariMu

| Sunday, 1 September 2013

Terimakasih ya Allah untuk hadiah yang tak ternilai ini.

Hidup ini begitu sederhana. Tetapi seringkali ingin sekali menyerah dalam banyak hal.. bahkan kadang bertanya untuk apa hidup harus mengejar prestasi, mengejar harta, mengejar jabatan. Untuk apa menjadi juara kelas, menjadi juara kompetisi, menjadi kaya, menjadi pemimpin. Untuk apa? Toh ujung-ujungnya manusia akan berakhir menjadi tanah. 
Perasaan ini begitu sederhana, tidak meminta macam-macam pada Allah. Hanya sekedar menerima apa yang terlintas di garis takdir. Perasaan ini begitu sederhana, tidak berharap macam-macam pada Allah. Bahkan, prestasi, harta, jabatan, tidak menarik lagi untuk dilirik. Tidak ada perasaan terlalu senang, bereuforia berhari-hari. Tak ada pula kesedihan yang berarti, ditangisi berhari-hari. 
Allah sudah terlalu baik memberikan banyak hal yang berharga, hal yang bahkan tidak diminta, hal yang bahkan diri sendiri pun acuh mengurusnya. Allah sudah terlalu baik mengurusi hamba yang tak tau diri ini, yang lebih sering tak patuh, yang lebih sering merugikan diri sendiri. Allah sudah terlalu baik.

"Hidupmu harus bermakna, Nak. Bermanfaatlah untuk lebih banyak orang."

Mungkin satu harapan sederhana itu yang benar-benar ingin diwujudkan. Harapan dari seorang bidadari, hadiah terindah dariNya. Bidadari yang tak pernah lelah memberikan semangat, waktu dan cinta yang tak pernah pamrih,  sesibuk apapun, selelah apapun, sesakit apapun.

Bu, kami ingin menjadi kebangganmu, tidak peduli di hadapan manusia di dunia ini. Yang terpenting adalah di hadapan Rabb kita, di hadapan milyaran manusia di hari pembalasan kelak.
"Inilah ibuku, ya Rabb. Hadiah terindah kami dariMu."





Read More......
0

Tempat yang Berkesan

| Wednesday, 11 July 2012

Setiap orang memiliki tempat yang berkesan dalam hidupnya. Yang berkesan itu dapat terbentuk karena manusia memiliki emosi sebagai respon dari suatu peristiwa. Ketika seseorang berada di suatu tempat yang berkesan pada dirinya, dia akan memutar memori tentang pengalaman intim di masa lalunya dengan suasana tertentu. Pengalaman intim itu terbentuk dari penerimaan diri seseorang terhadap pengalaman baru. Tampat yang berkesan dengan adanya pengalaman intim membuat perasaan seseorang aman, nyaman, dan terpenuhi kebutuhannya. Perasaan itu dapat disamakan ketika kita berada di daam pelukan ibu kita di saat kita masih bayi.

Kehangatan pelukan ibu

Rumah-rumah di daerah beriklim dingin maupun subtropis menjadi lebih intim pada musim dingin dibandingkan pada musim panas. Di musim dingin, rumah menjadi sangat penting sebagai tempat bernaung dari cuaca yang sangat dingin. Sadangkan, musim panas membuat orang lebih senang berada di luar rumah untuk beraktivitas maupun liburan. Sebuah hal yang unik bagi manusia sebagai golongan primata bahwa ketika ia mengalami rasa sakit, ia akan dapat sembuh dan sehat kembali  dengan adanya perhatian dari lingkungan sosial di sekitarnya.
Banyak orang memiliki rumah. Apalagi di era saat ini, untuk membangun atau membeli rumah sangat mudah dan mungkin. Akan tetapi, hanya sedikit yang dapat tinggal di rumah yang berkesan dan nyaman, yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhannya. Bisnis properti yang berkembang pesat menyebabkan rumah-rumah dijadikan barang komoditas yang dibuat sama yang secara tidak langsung memukul rata kepribadian dan kebutuhan penghuninya. Tentu saja hal tersebut bukan sesuatu yang menyenangkan sebagai penghuni. Mengapa penting untuk tinggal di rumah yang nyaman?
Bagaimanapun, setiap hari aktivitas yang intim pada diri seseorang lebih sering dilakukan di dalam rumahnya. Mungkin saja seseorang dapat bekerja seharian di luar rumah, tetapi sekalipun hanya sedikit waktu yang dihabiskan di rumah, tentu saja rumah adalah tempat yang diharapkan menjadi area bersantai yang nyaman untuk melepas penat setelah begitu lama bergulat dengan pekerjaan.
Tempat yang berkesan terkadang bukanlah sesuatu yang spesial untuk banyak orang. Bahkan, seringkali tempat yang berkesan bagi seseorang adalah tempat yang biasa bagi orang lain. Lalu, bagaimana sebuah tempat dapat menjadi berkesan bagi seseorang?
Suatu tempat  yang sering kita jumpai akan tetap menjadi tempat biasa apabila kita tidak melibatkan emosi ketika kita berada di tempat tersebut. Akan tetatpi, suatu tempat dapat menjadi sangat spesial bagi kita ketika kita pernah mengalami hal yang tidak biasa di tempat tersebut dan sangat membekas di hati kita. Seorang ibu pernah mengajak anak gadisnya pergi mengunjungi sebuah rumah kaca biasa di tempat kerjanya. Di sana sang ibu sering mengajari anak gadisnya menanam dan merawat tanaman. Aktivitas itu terjadi bertahun-tahun lamanya sebelum akhirnya ibunya meninggal dunia. Namun, sampai ketika anak gadis itu sudah tumbuh dewasa, ia masih sering mendatangi rumah kaca tersebut hanya untuk memutar memori indahnya bersama sang ibu dahulu.
Sesuatu yang berkesan tidak hanya berbentuk tempat, tetapi juga dapat berwujud benda-benda yang biasa berada di sekitar kita. Seorang pria memberikan sebuah mug kepada seorang wanita yang dikasihinya. Wanita yang juga mengasihinya itu menyimpan mug itu di atas meja tidurnya dan selalu memandanginya setiap pagi setelah bangun pagi. Mug itu mungkin hanya benda biasa bagi orang kebanyakan, tetapi bagi si wanita, mug itu memiliki arti kasih sayang dari prianya.

Sering kali seseorang tertipu dengan suatu tempat atau benda yang mengesankan. Mengesankan di sini berarti menarik dalam hal estetika dan kreativitas. Contohnya saja, sebuah rumah didesain oleh seorang arsitek ternama dengan kreativitas yang dikagumi banyak orang. Seseorang yang tinggal di dalamnya merasa terkagum-kagum melihat keindahan dan kreativitas itu. Akan tetapi, ketika beberapa lama dia tinggal di dalamnya, dia tidak merasakan adanya kenyamanan dan kecocokan rumah dengan kebutuhannya. Hal ini dapat terjadi pula dengan seseorang yang merantau ke kota besar dan melihat kemewahan dan kemegahan kota itu sebagai sesuatu yang mengesankan. Namun, sutu ketika ia menyadari bahwa tempat yang paling nyaman bagi dirinya tetaplah kampung halamannya. Dia merasa kesepian dan tertipu oleh hal-hal yang semula dianggapnya mengesankan dan ingin kembali pada tempat semula yang lebih berkesan sesungguhnya bagi dirinya.
Suatu tempat yang berkesan bukan hanya mempertimbangkan tentang keindahan dan kreativitas saja. Ia lebih dalam dari itu. Ia memainkan rasa dan emosi. Maka, kita tidak selayaknya melihat suatu tempat yang berkesan bagi banyak orang berarti berkesan dan cocok dengan kita. Kita harus lebih bijak dan dewasa untuk dapat memilih apa saja yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan kta, bukan hanya ikut-ikutan menilai sesuatu sebagai hal yang mengesankan hanya dari persepsi dan perkataan orang lain yang bahkan tidak banyak tahu mengenai diri kita.



Judul                  : Space and Place (Bab 10: Intimate Experince of Place)
Pengarang          : Yi-Fu Tuan
Data Publikasi    : University of Minnesota Press, 22 Januari 2001 - 248 halaman

Read More......
0

“Pisau” di Tangan Seorang Perancang Ruang

|

Kamar berkonsep Natural

Seandainya kita hidup di era 50 tahun yang lalu, kita masih bisa menikmati bentang-bentang alam di sekitar kita. Kita dapat bermain layang-layang, mengejar kupu-kupu, memancing di danau, atau bahkan berlarian di jalan-jalan tanpa harus takut tertabrak kendaraan. Namun, seiring bertumbuhnya teknologi yang memanjakan manusia dengan sedikitnya pergerakan dan memaksimalkan aktivitas, mulai terbentuklah ruang-ruang dalam. Hingga sampai saat ini, aktivitas di dalam ruangan mencapai 80% dan sisanya adalah aktivitas di luar ruangan.1


Memang, aktivitas dalam ruangan lebih menyediakan akses yang mudah dan aman. Namun, di balik teknologi yang memanjakan interaksi kita di dalam ruangan itu, terdapat semacam “bom waktu” berupa tekanan psikologis bagi kita seperti building sickness atau suatu gejala yang berpengaruh secara  fisik maupun mental kita atas respon ketidaknyamanan terlalu lama berada di dalam ruangan.2 Mengapa dapat terjadi building sickness?

Manusia, seberapapun berkembangnya teknologi yang memanjakannya, tetaplah makhluk yang sejatinya diciptakan untuk hidup berbaur dengan alam. Itulah mengapa, ketika kita berlibur ke pegunungan, pantai, atau lansekap alam yang lainnya, kita merasakan kedamaian tersendiri.

Salah satu efek yang tidak menyenangkan dari building sickness adalah dapat terjadinya perubahan pada pola pikir kita. Kita bisa saja menjadi malas, tidak disiplin, kurang percaya diri, bahkan menjadi tidak jujur,  hanya karena kesalahan desain suatu ruangan. Pernah membayangkan seseorang yang terpenjara dalam ruang tertutup yang kumuh dan lembab bertahun-tahun lamanya? Seperti itu lah efek ekstrim dari rancangan suatu ruang. Efek yang sama ketika kita salah memilih genre film yang kita tonton untuk waktu yang lama, perlahan dan tidak disadari. Rancangan ruang dalam ibarat pisau, dia bisa digunakan untuk memotong buah, tetapi dia juga bisa dijadikan alat untuk membunuh.

Dibalik efek negatif suatu perancangan ruang dalam, selalu ada potensi positif darinya yang dapat dimanfaatkan. Seorang perancang ruang dalam bisa saja membuat penghuni rancangannya menjadi semangat beraktivitas, produktif, percaya diri dan menjadi lebih bahagia berangkat dari rancangannya. Dengan menempatkan furniture yang nyaman dan program ruang yang baik, seorang perancang ruang dalam dapat memberikan solusi positif bagi permasalahan kliennya.

Disinilah seorang perancang bangunan dan ruangan diuji idealismenya. Di satu pihak, dia harus mengutamakan kebaikan penghuni rancangannya. Tidak sekedar indah, tetapi nyaman dan memberi solusi positif di dalamnya. Di sisi lain, banyak peluang bisnis properti dan furniture yang menggoda dengan keutungan materi dan ketenaran. Saya pribadi tetap berkeyakinan bahwa ketika seorang perancang ruang dalam dapat mempertahankan idealismenya dan bertanggung jawab atas rancangannya, semuanya itu (keuntungan materi dan ketenaran) pada akhirnya akan menghampirinya tanpa perlu diminta.
Sumber Referensi:
1 Pile, John F.. 1995. Interior Design. New Tork: Hary N Abrams Inc.
2 US Environmental Protection Agency research

Read More......
0

Mereka Bilang Saya Tidak Normal?

| Sunday, 11 December 2011

Setiap manusia diciptakan sempurna, karena penciptanya adalah Zat Yang Mahasempurna.

Saya terkagum-kagum pada semangat Om Pepeng yang masih kuat terasa sekalipun beliau terbaring di atas tempat tidur saat mengisi seminar kepemimpinan YDBP tempo lalu. Multiple schlerosis yang menggerogoti tubuhnya tidak lantas menyurutkan rasa syukur dan semangat muda di hatinya. Dulu beliau pelawak, kini beliau tetap menyenangkan dengan cara yang lain.

Ironisnya, kenapa, kita, yang masih sangat muda ini, yang masih mampu berjalan dan pergi kemana pun yang kita suka, terkadang masih sempat mengeluh dan tidak berbuat apa-apa. Betapa tidak bersyukurnya kita..

Ketika kita mengeluh, kita begitu iri melihat orang lain yang masih dapat tersenyum riang. Seolah-olah keberuntungan tidak berpihak pada kita. Namun, jika dipikirkan kembali, kenapa tidak kita coba “meriangkan hati” kita sendiri dan mencari  keberuntungan kita sendiri? Lagi-lagi saya teringat pada kata “bersyukur”.

Benar juga ya, bersyukur adalah cara seseorang mengungkapkan betapa beruntung hidupnya sehingga terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mengeluh.

Ya, Tuhan menciptakan setiap manusia dengan komposisi yang sama. Tidak ada kata mayoritas dan minoritas atau normal dan tidak normal. Definisi “normal” sendiri adalah definisi buatan manusia yang menggolongkan manusia secara “tampak” dan bukan secara komposisi keseluruhan. Saya, Anda, dia, mereka, kita semua sama. Ketika kita mensyukuri apa yang Telah Tuhan berikan kepada kita, apapun itu, maka kita akan mendefinisikan “normal” itu dengan “Ini lho saya! Saya seperti ini dan saya menikmati diri saya yang seperti ini.”.

Pernahkah timbul pertanyaan, “Apakah Tuhan Yang Maha Sempurna akan menciptakan sebuah kecacatan atau ketimpangan tanpa Dia kehendaki, tanpa Dia seimbangkan dengan kelebihan yang lain?” Tentu tidak! Semua pasti sudah ditakar sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu ciptaan dengan komposisi  SEMPURNA. Ada orang-orang berkebutuhan khusus terlihat “berbeda” karena dirinya lah yang membedakan diri, dirinya lah yang merasa kurang dari orang-orang di sekitarnya. Namun, masih banyak dari mereka yang lain, yang “menyejajarkan” diri mereka dengan orang-orang di sekitarnya, yang beraktivitas seperti orang kebanyakan, bahkan lebih produktif dari orang kebanyakan yang “normal”.

Membedakan diri dan menganggap diri sendiri selalu kurang dari orang lain sama artinya dengan menutup pintu bagi orang lain untuk menerima diri kita apa adanya. Padahal, seandainya tetap bersikap “biasa” pun dengan kespesialan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih menyenangkan dan bermanfaat.

Bukan juga bermaksud menyamakan dengan bunglon yang mengubah warna tubuhnya dengan lingkungannya. Jadilah berlian, yang sekalipun diletakkaan di air jernih, di air keruh, di lumpur, dia tetap bernilai sebagai dirinya sendiri, berlian. Menjadi diri sendiri, mencintai keadaan diri sendiri.

Masih punya alasan untuk mengeluh? Masih punya alasan untuk bersedih?  Kita bukan orang paling bodoh sedunia, bukan yang paling miskin sedunia, bukan yang paling berpenyakitan sedunia. Memangnya kita dapat membuktikan keyakinan yang menyatakan diri sebagai “yang paling-paling” itu? Apa parameternya? Validkah?

Sudahlah.. tidak perlu menguras tenaga dengan menilai diri kita dengan “yang paling-paling” itu. Selagi kita masih dapat bangkit, bangunlah! Jika kekurangan kita yakini tadi dapat diperbaiki, perbaikilah! Jika tidak, terimalah dengan rasa syukur bahwa Tuhan menciptakan racun dengan penawarnya. Tentu ada potensi-potensi lain yang dapat menyeimbangkan kekurangan itu. Gali dan kembangkan! Maka jadilah kita “manusia normal yang sesungguhnya”.

Depok, 9 Desember 2011 20:16

Read More......
0

Cinta(?)

| Sunday, 2 January 2011

Apa itu cinta?
Kadang2 saya heran sendiri menanggapi teman2 saya yang sedang kasmaran, hihi, lucu.. 
Ya, cinta itu fitrah..
Hmm.. gimana ya.. sebenarnya wajar jika pada remaja seusia saya mengalami apa yang namanya jatuh cinta, tertarik pada lawan jenis. Tapi bukan berarti sebuah kekeliruan kan jika saya memiliki keinginan agar cinta yang satu ini dijatuhkan hanya pada seseorang yang memang tepat, yang Dia sediakan untuk saya, bukan yang lain2. Bingung juga ya kalau harus menjawab pertanyaan, 'Apakah kamu pernah jatuh cinta?'. Kadang saya tidak menjawabnya, atau menjawabnya setengah lalu mengalihkan ke topik yang lain. Jatuh cinta untuk cinta yang mana dulu? Sebenarnya saya juga sudah bisa menebak, cinta yang teman2 saya maksud pasti cinta kepada lawan jenis. Bingung juga mau menjelaskan, aduh aduuh.. Pasti nanti dibilang sok lah, apa lah.. Jadilah kadang2 saya membanyolkan apa yang mereka sebut jatuh cinta. Menjadi sok2 jatuh cinta, ngefans, lebay, mengiyakan, sekedar menunjukan empati saja pada teman2. (empati macam apa pula ini???) Jaman sudah serba sulit, ga pacaran, ga suka2an aja dibilang aneh, munafik.. Sepertinya masih banyak hal yang perlu dipikirkan..
Cinta kan tidak sebatas cinta kepada pacar.. ya kan ya kan.. ;)
Buat saya cinta itu suci, sangat suci, sehingga sangat disayangkan jika dijatuhkan di sembarang tempat, di waktu yang tidak tepat. Saya tidak menafikan hadirnya cinta dalam hidup saya. Cinta kepada Allah, kepada orang tua, kepada adik-kakak, kepada sahabat, dan kepada sesama manusia, kepada cita2, pekerjaan... Saya punya banyak sahabat, saya senang melihat mereka senang dan sedih melihat mereka sedih. bahkan saya pernah beberapa kali menangis untuk sahabat2 saya karena mereka terluka karena atau bukan karena saya. Saya sayang mereka. Siapapun yang bersikap baik dan bersahabat pada saya akan saya sambut dengan hati gembira dan terbuka. Bukankah itu juga cinta? Semua hubungan, aktivitas sebaiknya memang disertakan dengan cinta kan? Tentu pada porsi, tempat, dan waktu yang tepat.. hoho.. Dan buat saya, saat ini, cinta2 itu sudah cukup memenuhi hati saya dengan kedamaian dan kebahagiaan. :D
Semua hubungan, aktivitas, tujuan, cita2 sebaiknya disertakan dengan CINTA, sehingga apapun yang kita lakukan senantiasa memberi kedamaian dan kebahagiaan.

Read More......
0

Mahasiswa dan Seorang Muslimah , Review 2010

| Saturday, 1 January 2011

Hari ini hari pertama tahun 2011 (so?)

Baik. Sudah beberapa bulan ini saya merasakan hal yang membuat dada saya berkecamuk.Saya hanya merasa Allah sedang mengirimkan sinyal-sinyal bahwa ada yang tidak beres, entah itu pemikiran saya, tindakan, atau hanya sekedar perasaan.  Saya tidak tau apa itu, tapi saya benar2 ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. 

Mungkin karena saya sedikit bosan dengan rutinitas kuliah saya yang, yah.., rasanya kurang 'greget'. Atau bisa jadi karena keinginan saya untuk tetap aktif berorganisasi harus terhenti karena suatu hal. Bisa juga karena saya kurang mempersiapkan rencana B ketika TIDAK saya ditolak oleh pihak lawan. Atau alasan2 lainnya.. yang pasti semua itu terasa complicated di dalam otak saya.

Dulu, saya sadar betul akan pilihan saya, kemampuan saya, dan segala sesuatu yang terencana dengan baik beserta kemungkinan-kemungkinan yang terjadi (tentunya dengan izin Allah). Saya harus fokus pada cita2 saya. jelas. Itu sudah ada dalam mindmap saya dan terhubung satu dengan yang lainnya. Lantas?

Saya hanya bingung dengan keadaan saya sekarang. Rasanya begitu banyak pemikiran, tapi cuma beberapa yang menjadi tindakan. Owh.. sama saja omong kosongnya dengan orang-orang yang mengatasnamakan ilmu dalam kata mereka namun tidak hidup dalam hati mereka.

Mahasiswa. ya, sekarang saya mahasiswa. Tiga tahun lagi insya Allah saya lulus, empat tahun, lima tahun, dan seterusnya blablabla.. Ada banyak tuntutan sana sini yang kadang membuat saya nyaman, tapi juga kadang membuat saya bersalah.

Pernah suatu kali, saat saya naik angkot 04 dari ITC Depok menuju kampus UI.. di angkot itu saya duduk bersama seorang teman saya dan seorang ibu dengan anaknya seumuran SD. Kemudian anak itu membuang botol sisa minumannya begitu saja di dalam angkot, bahkan ibunya sendiri menyuruhnya membuangnya di situ. Saya diam. Otak saya berputar-putar. Ketika saya sudah turun dari angkot, saya baru menyesal. Kenapa saya tidak menegur ibu itu untuk mengajari anaknya membuang sampah pada tempatnya?? Sungguh, mungkin bagi yang lain itu sepele, sangat sepele, tapi bagi seorang mahasiswa? Dimulai dari mana lagi mengedukasi masyarakat tentang pentingnya suatu peraturan, untuk apa aturan itu dibuat, dan efek dari aturan yang dilanggar. Bukan dari sudut pandang hukuman tentunya, tapi dari sudut pandang manfaat bagi kehidupan mereka. Saya benar2 malu.. saya hanya diam dimana seharusnya  saya harus bertindak, bahkan untuk hal yang benar2 ada di depan mata saya. Bagaimana saya bisa mengubah suatu hal yang besar jika yang terlihat sepele saja saya belum mampu bertindak? Saya sadar betul, ada tanggung jawab negeri ini yang dipasrahkan di pundak kami, generasi pembaharu.(?)

Juni lalu, ketika saya harus memilih antara Bandung dan Depok, saya memiliki banyak alasan untuk memilih Depok. Tantangan hidup mandiri, strategi cita-cita yang tidak monoton, dan bayangan hidup yang lebih berwarna dan aktif dari Bandung serta independensi saya yang diuji karena suatu saat saya akan hadir di masyarakat tanpa menyandang embel-embel insitusi pendidikan dimana saya belajar. Saya berangkat dari nol, itu keinginan saya. Tapi kini saya merasakan surutnya 'greget' itu. Mungkin karena hanya sedikit yang saya lakukan.. rasanya benar-benar haus.. mungkin juga karena strategi saya yang sedikit kacau menghadapi masalah di tengah semester yang memang sempat membuat saya down.. Tapi itu tidak seharusnya.. harusnya saya bisa lebih kuat dan bertahan, bahkan sekalipun saya merasa ketidakadilan tidak berpihak kepada saya dan saya yakin Allah memberi hikmah dibalik semua perlakuan itu.

Atau bisa juga karena saya sedikit menjauh dariNya.. hmm.. Ah, saya benar2 malu padaNya.. saya bilang saya mencintaiNya.. tapi untuk sekedar sholat tepat waktu pun menjadi ogah-ogahan.. apalagi shalat shunnah.. sangat sangat jarang sekarang saya lakukan.. tapi Dia masih memberi banyak hikmah dan anugrah.. hhhhh.. apa yang sudah saya lakukan.. jadi merasa bahwa diri saya yang sekarang mengalami penurunan kualitas aqidah.. Astaghfirullah.. Padahal Dia setia menemani saya ketika bertubi-tubi masalah berdatangan.. Dia teman curhat saya ketika tak satu orang pun mau mendengar keluh kesah saya.. Dia adalah motivasi terbesar saya menjalani hidup, memilih, berpikir, taat kepada orang tua, orang lain, dan dasar dari mimpi dan cita-cita saya.. Cinta yang tidak mungkin bertepuk sebelah tangan.. Ah.. kemana perginya cinta itu.. Mungkin harus membuka mushaf lagi dan lebih memahami arti dari surat-surat cintaNya, firmanNya..

Saya hidup, punya tanggung jawab dengan apa yang ada di sekitar saya. Namun, kelak saya akan mati dan pasti ada saat perjumpaan dengan Tuhan saya. Saya mahasiswa, manusia, yang memiliki cita-cita yang terus ingin saya gapai. Kedamaian, prestasi, ilmu, dan kepuasan adalah beberapa hal yang ingin saya dapat di dunia. Ada banyak hal yang sudah saya rancang untuk mencapainya.

Namun, saya umat beragama. Islam adalah pilihan hidup saya sekaligus mati saya. Seperti cita-cita saya yang harus saya perjuangkan dengan konsisten dan konsekuensi tinggi, saya bertanggung jawab juga dengan pilihan saya. Saya muslimah dan ada banyak hal harus dilakukan secara konsisten dan konsekuen atas pilihan itu. Kelak saya akan menikah, ketika tanggung jawab dari Ayah saya berpindah kepada suami saya dan ketaatan saya menjadi milik suami saya. Ah, Ayah.. kau pasti ingin cepat-cepat melihat anak gadisnya menikah dengan laki-laki yang bisa menggantikanmu di usiamu saat ini.. pasti ada rasa bangga di hatimu ketika kau berhasil manjaga anak gadismu sampai tiba waktunya. Rasa bangga itu, tanggung jawabmu di hadapan Rabbmu..

Lalu, salahkan jika saya sudah memikirkan kehidupan pernikahan itu? Seperti saya memikirkan cita-cita saya? Memikirkan cinta dan ketaatan yang akan saya berikan sepenuh hati untuk pemilik tulang rusak saya? Entah kapan dan untuk siapa cinta itu diberikan.. Yang pasti saya akan konsekuen atas pilihan saya kelak. Tentu bukan hal yang mudah untuk bisa mensinergikan cita-cita dan kehidupan rohani saya.. Namun, saya yakin saya mampu. Saya akan mampu mengejar cita-cita saya juga menjadi seteguh dan sekuat ibu saya serta menjaga izzah saya seperti pesan ayah saya.. dengan izinNya, saya akan dapat melakukannya :)

Read More......